Minggu, 13 Oktober 2013

LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Apabila teman-teman menginginkan File ini, silahkan koment dan tinggalkan e-mail. karena blog ini diseting untuk tidak bisa di Copy-Paste, terimakasih.

BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, pendidikan akan tetap terus ada secara kontinu. Proses pendidikan yang pada hakikatnya adalah mengembangkan kehidupan sebuah bangsa memiliki tantangan khusus, sebab peserta didik bukanlah satu individu saja, atau segelintir kelompok, tetapi sebuah bangsa yang pesertanya ratusan bahkan ribuan. Tantangan para pendidik demi mencapai hasil yang maksimal dari keragaman model kejiwaan (psikologis) peserta didik pun menuntut agar seorang pendidik benar-benar menjadi pendidik yang profesional, dimana ia bisa memaksimalkan potensi setiap anak didiknya juga mengarahkan sesuai minat dan bakat serta cita-citanya.
Pada dasarnya pendidikan seperti eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya. Pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat, akhir-akhir ini pendidikan diarahkan untuk menanggulangi permasalahan putus sekolah, kenakalan anak, pengangguran dan dunia kerja. Belakangan ini orang ramai membicarakan pembaharuan pendidikan untuk menjawab masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia. Bahkan mereka ada yang meragukan tentang guna dan makna pendidikan itu sendiri, biaya yang dikeluarkan sudah begitu banyak tetapi kadang mereka tidak bekerja sesuai dengan pengalaman yang dimiliki dengan lapangan pekerjaan yang ada.
Pendidikan kita sekarang belum banyak memperhatikan minat dan kebutuhan anak didik. Pendidikan kita masih banyak dipenuhi dengan masalah-masalah kompetensi lembaga pendidikan serta pemenuhan kebutuhan dunia kerja akan tenaga kerja. Dari kenyataan tersebut, maka sudah saatnya pendidikan lebih melayani kebutuhan dan hakikat psikologis anak didik. Pendidikan seharusnya mempunyai kreasi-kreasi baru dengan berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik. Berdasarkan uraian diatas, pengetahuan psikologis tentang anak didik menjadi suatu hal yang sangat penting dalam pendidikan, karena pengetahuan tentang psikologi pendidikan menjadi kebutuhan bagi para pendidik, bahkan bagi setiap orang yang merasa dirinya seorang pendidik. Sehubungan dengan pentingnya mengetahui tentang landasan psikologis dalam pendidikan maka pembahasan yang dilakukan sangat perlu dibincangkan. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologi merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Sementara itu keberhasilan pendidik dalam melaksanaan berbagai peranannya akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang seluk beluk landasan pendidikan termasuk landasan psikologis dalam pendidikan.
Perbedaan individual terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasan dan bakat tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita bahkan perbedaan kepribadian secara keseluruhan. Oleh sebab itu, pendidik perlu memahami perkembangan individu peserta didiknya baik itu prinsip perkembangannya maupun arah perkembangannya. Salah satu cara untuk dapat menghilangkan atau memperkecil permasalahan adalah berlandaskan pada teori-teori pendidikan. Dengan demikian dapat memperkecil dan memecahkan beragam permasalahan pendidikan pada umumnya dan pembelajaran khususnya.
Keterbedaan latar belakang keluarga, lingkungan, dan kebudayaan keluarga membuat keberagaman psikologis peserta didik benar-benar nyata terlihat terutama dalam kemampuan intelektual, afektifnya, dan psikomotoriknya.  Sehingga dalam suatu lingkungan pendidikan yang sama,  juga dengan perlakuan yang sama  pula, hasil proses pembelajaran akan menunjukan hasil yang tidak sama, sebab perbedaan psikologisnya tersebut.
B.       Permasalahan
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa pengertian Landasan Psikologi dalam pendidikan ?
2.      Bagaimanakah pentingnya landasan psikologi dalam pendidikan ?
3.      Bagaimanakah implikasi landasan  psikologi dalam pendidikan ?

C.       Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, yaitu:
1.    Memahami pengertian Landasan Psikologi dalam pendidikan,
2.    Mengetahui bagaimanakah pentingnya landasan psikologi dalam pendidikan, dan
3.    Menjelaskan implikasi landasan psikologi dalam pendidikan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Landasan Psikologi dalam pendidikan
 Pengertian psikologi, menurut asal  katanya  psikologi  berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sukma dan roh, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan  atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dari ilmu pengetahuan, menyebabkan banyak terjadi perubahan dalam bidang pendidikan. Kurikulum yang sering direvisi dalam pengembangannya, tujuan pendidikan sering mengalami perubahan dalam perumusannya, metode belajar mengajar sering mengalami perubahan dan pengembangan, dan sumber serta fasilitas belajar sering mengalami penambahan.
Dari uraian diatas dapat kita ambil makna bahwa perkembangan teknologi pada ilmu pengetahuan dapat membuat perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan , baik pada revisi dan pengembangan kurikulum, metode, rumusan, serta sumber dan fasilitas belajar dapat memancing berbagai macam tanggapan apakah semua hal itu dapat mengganggu pelaksanaan aktivitas belajar sehingga akan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik, dan akhirnya timbul kekhawatiran akan diabaikannya psikologi dalam pendidikan.
Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, maka diharapkan peserta didik dapat mempunyai tingkat keaktifan yang tinggi, baik itu secara fisiologis maupun psikologis. Dengan demikian psikologi tetap akan memperoleh tempat dalam dunia pendidikan.
Proses kegiatan pendidikan melibatkan proses interaksi psikho-fisik dalam sosio-kultural yang antropologis-filosofis-normatif. Yakni pendidikan menyangkut interaksi kejiwaan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana nilai  budaya suatu masyarakat (sebagai lingkungan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan).
Berdasarkan pengertian tersebut, landasan psikologis penddikan adalah kajian tentang aspek-aspek psikologis yang dapat menjadi dasar pemahaman bagi calonpendidik, untuk mengenali, menghayati, dan mengaplikasikan konsep-konsep perkembangan psikologis dari peserta didik dalam ranga mencapai tujuan penddikan.
          Salah satu aspek tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya individu atau sekelompok siswa saja yang dicerdaskan, tapi adalah seluruh Bangsa Indonesia. Dan tugas pengembangan kecerdasan kehidupan bangsa tidak hanya bertumpu pada keceerdasan intelektualnya saja, namun jugaseluruh aspek kepribadian manusia yang meliputi kecerdasan intelektual (IQ), Kecerdasan Sosial (SI), Kecerdasan Spiritual (SpI), Kecerdasan Emosi (EI), dan lain-lainnya.
          Dengan perhatian terhadap masalah intelektual manusia.,kita dapat mempelajari dasar-dasra teori psikologi kognitif. Guru  dan pendidik tidak boleh hanya memperhatikan aspek intelektual saja, tetapi kebutuhan-kebutuhan manusia dalam hidupnya sangat kompleks, yang oleh A.H. Maslow dalam buku Individual and Society, mengkategorikan menjadi lima tingkatan kebutuhan (Krech dkk. 1962; 76), yaitu :
1.              Kebutuhan fisik, contoh: lapar, haus
2.              Kebutuhan keamanan, contoh: kemanan, aturan
3.              Kebutuhan memiliki dan rasa cinta, contoh: kasih sayang, mengidentifikasi
4.              Kebutuhan penghargaan, contoh: prestasi, keberhasilan, harga diri
5.              Kebutuhan aktualisasi diri, contoh: kebutuhan untuk menyempurnakan diri
Menurut Maslow, kebutuhan yang klebih tinggi tersebut akan dapat terpenuhi setelah kebutuhan yang mendasar terpenuhi.

B.       Pentingnya Landasan Psikologi dalam Pendidikan
Landasan psikologi   pendidikan merupakan salah satu landasan yang penting dalam pelaksanaan pendidikan karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasnya sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Oleh karena itu pendidik harus mengetahui apa yang harus dilakukan kepada peserta didik dalam setiap tahap perkembangan yang berbeda dari bayi hingga dewasa.
Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami perubahan karena dibimbing. Kegiatan bimbingan merupakan usaha atau kegiatan berinteraksi antara pendidik, peserta didik dan lingkungan. Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis.
Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam proses dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan peranan psikologi menjadi sangat mutlak. Analisis psikologi akan membantu para pendidik memahami struktur psikologis anak didik dan kegiatan-kegiatannya, sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan secara efektif.
          Landasan psikologi pendidikan sangatlah penting bagi keberlangsungan proses pendidikan demi tercapainya tujuan yang diharapkan dalam proses pendidikan tersebut, sebab keberagaman tipe kepribadian peserta didik mengharuskan seorang pendidik menguasai dasar-dasar (landasan) kejiwaan peserta didiknya (psikologis), sehingga dalam proses pendidikan seorang guru atau pendidik dapat secara bijak menempatkan dirinya dalam bersikap terhadap peserta didik.
          Selain itu, dengan landasan psikologi pendidikan seorang pendidik dapat mengarahkan peserta didik sesuai dengan kepribadian, minat, dan cita-citanya. Sehingga  dengan landasan psikologi, jiwa seorang pendidik benar-benar dapat dirasakan oleh peserta didiknya.
          Dengan pemahaman seorang pendidik terhadap kondisi psikologis peserta didik, maka seorang pendidik dapat menempatkan diri terhadap batas-batas dirinya dalam campur tangan urusan seorang peserta didik, dari lingkungan keluarganya.
Tujuan perilaku perlu ditetapkan terlebih dahulu sebelum mengembangkan pembelajaran agar dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah belajar. Tujuan perilaku ini merupakan ciri yang harus ada dalam setiap model pengembangan pembelajaran yang merupakan salah satu bentuk konsepsi teknologi pendidikan, yakni dapat dilakukan dengan teori belajar dalam pendidikan.
Ada berbagai klasifikasi teori belajar yang didasarkan pada pendekatan filosofis, dan aliran—aliran psikologi. Teori belajar yang didasarkan pada pendekatan filosofis, diklasifikasikan menjadi 3 aliran, yaitu KOGNITIVISME, HUMANISME, dan BEHAVIORISME.
1.      Teori Psikologi Kognitif ( Kognitivisme)
Psikologi kognitif yang dipengaruhi oleh Kurt Lewin, John Dewey, dan Kohler mempunyai pandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses pengenalan yang bersifat kognitif. Pengenalan terhadap sesuatu secara langsung yang melibatkan logika ataupun pengalaman disebut discovery atau penemuan. Sedangkan proses belajar yang melibatkan kognisi tingkat tinggi disebut belajar dengan intuisi atau juga mungkin melalui wahyu. Para ahli psikologi kognitivisme memandang bahwa perkembangan kognisi sesorang melalui tahap perkembangan sesuai dengan bertambahnya usia individu. Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognisi dari usia anak dan remaja menjadi empat tahap, yaitu:
a.       Tahap sensorik-motorik
b.      Tahap operasi awal
c.       Tahap operasi konkrit
d.      Tahap operasi formal
2.      Teori Psikologi Humanistik
Menurut aliran humanisme bahwa perilaku manusia itu ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internal dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuannya. Tujuan pendidikan menurut kaum humanistik adalah realisasi diri, yakni suatu kondisi dimana individu mencapai kesadaran akan dirinya sendiri, lingkungan dan sistem nilai. Proses belajar yang berlandaskan pada humanisme, menekankan pada pentingnya hubungan “interpersonal”, sikap menerima murid sebagai seorang pribadi yang mempunyai kemampuan, serta peranan guru sebagai partisipan sebagai proses belajar bersama.
3.      Teori Belajar Behavioristik
Aliran ini memandang bahwa perilaku manusia adalah hasil pembentukan melalui kondisi lingkungan. Prinsip ini dikenal dengan prinsip ”operant conditioning” yang dikembangkan oleh Skinner.
Ada tiga hal yang mempengaruhi proses belajar seseorang, yaitu stimulus, respon, dan akibat. Stimulus adalah sebagai cue, yaitu sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respon individu. Akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespon, baik yang sifatnya positif maupun negatif.
Adapun tujuan pendidikan menurut aliran ini adalah berorientasi pada pengembangan kompetensi, penguasaan secara tuntas (mastery) terhadap apa-apa yang dipelajari. Peranan guru dalam proses belajar adalah sebagai pengambil inisiatif dan pengendali proses belajar. Proses belajar yang behavioristik menunjukkan proses belajar setahap demi setahap secara terperinci dan tergambarkan dalam sekuensi logis dari informasi yang disajikan.
Teori belajar yang didasarkan pada pendekatan aliran psikologi dapat di klasifikasikan menjadi:
a.       Teori-teori belajar disiplin mental, memandang belajar sebagai proses mendisiplinkan atau melatih fungsi-fungsi jiwa.
b.      Teori-teori ikatan stimulus dan respon, menyatakan bahwa belajar sebagai ikatan antara rangsangan yang datang dari luar dan secara otomatis terjadi reaksi.
c.       Teori-teori kognitif, memandang bahwa proses belajar adalah seabagai yang terjadi dalam bidang kognitif, yaitu proses memahami.
d.      Teori-teori prestasi belajar, memandang baha proses belajar mempunyai hubungan dengan proses mengajar, yang menitik beratkan pada faktor-faktor belajar supaya berhasil optimal.
e.       Teori-teori belajar inovatif, memandang bahwa proses belajr pada anak dan orang dewasa tertuju pada kemampuan untuk mengantisipasi peristiwa masa depan dalam menyelesaikan diri pada tuntutan kehidupan masa depan yang mungkin belum pernah ada polanya sampai sekarang.

C.       Implikasi Landasan  Psikologi dalam Pendidikan

1.      Definisi dan Prinsip Perkembangan
Perkembangan adalah proses terjadinya perubahan pada manusia baik secara fisik maupun secara mental sejak berada di dalam kandungan  sampai manusia tersebut meninggal. Proses perkembangan pada manusia terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu.
Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak dewasa akan mengalami perubahan fisik dan mentalnya.
Sedangkan belajar adalah proses yang berkesinambungan  dari sebuah pengalaman yang akan membuat  individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk  mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk.
Manusia dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam berbagai aspek yang ada pada manusia dan aspek-aspek tersebut saling berhubungan dan berkaitan. Aspek-aspek dalam perkembangan tersebut diantaranya adalah aspek fisik, mental, emosional, dan sosial
Semua manusia pasti akan mengalami perkembangan dengan tingkat perkembangan yang berbeda, ada yang berkembang dengan cepat dan ada pula yang berkembang dengan lambat. Namun demikian dalam proses perkembangan terdapat nilai-nilai universal yang dimiliki oleh semua orang yaitu prinsip perkembangan .
Prinsip perkembangan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
a.    Perkembangan terjadi terus menerus hingga manusia meninggal dunia.
b.    Kecepatan  perkembangan setiap individu berbeda-beda
c.    Semua aspek perkembangan saling berkaitan dan berhubungan satu
sama lainnya
d.   Arah perkembangan individu dapat diprediksi
e.    Perkembangan terjadi secara bertahap dan tiap tahapan mempunyai
karakteristik tertentu.
2.      Pengaruh Hereditas dan Lingkungan Terhadap Perkembangan Individu
a)         Nativisme
Teori nativisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan kedunia  dengan membawa faktor-faktor turunan dari orang tuanya dan faktor tersebut yang menjadi faktor penentu perkembangan individu.
Tokoh teori ini adalah Schoupenhauer dan Arnold Gessel, implikasi teori nativisme terhadap pendidikan yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk mengubah kepribadian peserta didik.
b)        Empiris
Teori empiris adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu yang terlahir ke dunia adalah dalam kaeadaan bersih sedangkan faktor penentu perkembangan individu tersebut adalah lingkungan dan pengalaman. Tokoh teori ini adalah John Lock dan J.B. Watson
Implikasinya teori empirisme terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik.
c)       Konvergensi
Teori konvergensi adalah teori yang berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan serta pengalaman, atau dengan kata lain teori ini adalah gabungan dari teori empiris dan teori konvergensi. Tokoh teori ini adalah Wiliam Stern dan Robert J Havighurst.
Implikasi teori konvergensi terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan kepada pendidik untuk membentuk kepribadian individu sesuai yang diharapkan akan tetapi tetapa memperhatikan faktor-faktor hereditas yang ada pada individu.
3.      Tahapan dan Tugas Perkembangan Serta Implikasinya Terhadap Perlakuan Pendidik
Asumsi bahwa anak adalah orang dewasa dalam skala kecil (anak adalah orang dewasa mini) telah ditinggalkan orang sejak lama, sebagaimana kita maklumi bahwa masa anak-anak adalah suatu tahap yang berbeda dengan orang dewasa. Anak menjadi dewasa melalui suatu proses pertumbuhan bertahap mengenai keadaan fisik, social, emosional, moral dan mentalnya. Seraya mereka berkembang, mereka mempunyai cara-cara memahami bereaksi, dan mempresepsi yang sesuai dengan usianya. Inilah yang oleh ahli psikologi disebut tahap perkembangan.
Robert Havighurst (dalam http://www.idonbiu.com/2009/04/teori-perkembangan-kognitif-piaget.html) membagi perkembangan individu menjadi 4 tahap, yaitu masa bayi dan masa kanak-kanak  kecil (0-6 tahun), masa kanak-kanak (6-12 tahun), masa remaja atau adolesen (12-18 tahun), dan masa dewasa (18- …tahun), selain itu havighurst mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan (development task) yang harus diselesaikan pada setiap tahap perkembangan sebagai berikut :
1)  Tugas perkembangan Masa Bayi dan Kanak-kanak kecil ( 0-6 tahun )
1. Belajar berjalan
2. Belajar makan makanan yang padat
3. Belajar berbicara/berkata-kata
4. Belajar mengontrol pembuangan kotoran tubuh
5. Belajar tentang perbedaan kelamin dan kesopanan / kelakuan yang sesuai dengan jenis kelaminnya
6. Mencapai stabilitas fisiologis / jasmaniah
7. Pembentukan konsep sederhana tentang kenyataan social dan kenyataan fisik
8. Belajar berhubungan diri secara emosional dengan orang tua saudara dan orang lain
9. Belajar membedakan yang benar dan yang salah dan pengembangan kesadaran diri / kata hati
2)  Tugas perkembangan masa kanak-kanak ( 6-12 tahun ):
1. Belajar keterampilan fisik yang perlu untuk permainan sehari-hari
2. Pembentukan kesatuan sikap terhadap dirinya sebagai suatu organism yang tumbuh
3. Belajar bermain dengan teman-teman lainnya
4. Belajar memahami peranan-peranan kepriaan dan kewanitaan
5. Pengembangan kemahiran dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
6. Pengembangan konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari
7. Pengembangan kesadaran diri moralitas, dan suatu skala nilai-nilai
8. Pengembangan kebebasan pribadi
9. Pengembangan sikap-sikap terhadap kelompok social dan lembaga
3)  Tugas perkembangan masa Remaja / Adolesen ( 12-18 ):
1.  Mencapai peranan social dan hubungan yang lebih matang sebagai laki-laki / perempuan   serta kebebasan emosional orang tua
2. Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi dengan memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan
3. Mempersiapkan diri untuk keluarga
4. Mengembangkan kecakapan intelektual serta tingkah laku yang bertanggung jawab dalam masyarakat
4)  Tugas perkembangan pada masa Dewasa (18 – ….)
1. Masa dewasa awal :
- Memilih pasangan hidup dan belajar hidup bersama
- Memulai berkeluarga
- Mulai menduduki suatu jabatan / pekerjaan
2. Masa dewasa tengah umur :
- Mencapai tanggung jawab social dan warga Negara yang dewasa
- Membantu anak belasan tahun menjadi dewasa
- Menghubungkan diri sendiri kepada suami/isteri sebagai suatu pribadi
- Menyesuaikan diri kepada orang tua yang semakin tua
5)  Tugas perkembangan Usia Lanjut :
1. Menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani
2. Menyesuaikan diri pada saat pension dan pendapatan yang semakin berkurang
3. Menyesuaikan diri terhadap kematian, terutama banyak beribadah
Dari uraian di atas, seorang pendidik dalam proses pebelajarannya harus memperhatikan tugas perkembangan pada setiap masa perkembangan anak. Dimulai dari perencanaan pembalajaran yang akan dilaksanakan sampai dengan penilaian akhir serta evaluasi pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan tugas perkembangan peserta didik pada setiap masa perkembangannya.
4.       Implikasi Perkembangan Individu terhadap perlakuan Pendidik ( Orang Dewasa ) yang diharapkan
Sebagaimana dikemukakan Yelon dan Weinstei (dalam http :// www.idonbiu.com/ 2009/ 04 / teori-perkembangan-kognitif-piaget.html), implikasi perkembangan individu terhadap perlakuan pendidik ( orang dewasa ) yang diharapkan dalam rangka membantu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya adalah sebagai berikut :
a.  Perlakuan pendidik ( orang dewasa ) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa kanak-kanak kecil :
1.        Menyelenggarakan disiplin secara  lemah lembut secara konsisten
2.        Menjaga keselamatan tanpa perlindungan yang berlebihan
3.        Bercakap-cakap dan memberikan respon terhadap perkataan peserta didik
4.        Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif dan bereksplorasi
5.        Menghargai hal-hal yang dapat dikerjakan peserta didik
b.  Perlakuan pendidik ( orang dewasa ) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa prasekolah :
1.        Memberikan tanggung jawab dan kebebasan kepada peserta didik secara berangsur-angsur dan terus menerus
2.        Latihan harus ditekankan pada koordinasi: kecepatan, mengarahkan keseimbangan dsb.
3.        Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta didik
4.        Menyediakan benda-benda untuk diekplorasi
5.        Memberikan kesempatan untuk berinteraksi ssosial dan kerja kelompok kecil
6.        Menggunakan program aktif, seperti ; bernyanyi dengan bergerak, dll.
7.        Memperbanyak aktivitas berbahasa seperti bercerita, mengklasifikasikan, diskusi masalah, dan membuat aturan-aturan.
c.  Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa kanak-kanak:
1.        Menerima kebutuhan-kebutuhan akan kebebasan anak; dan menambah tanggung jawab anak.
2.        Mendorong pertemanan dengan menggunakan projek-projek dan permainan kelompok
3.        Membangkitkan rasa ingin tahu
4.        Secara konsisten mengupayakan disiplin yang tegas dan dapat dipahami
5.        Menghadapkan anak pada gagasan-gagasan dan pandangan-pandangana baru
6.        Bersaama-sama menciptakan aturan dan kejujuran
7.        Memberikan contoh model hubungan social
8.        terbuka terhadap kritik
d.  Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa remaja awal :
1.      Memberikan kesempatan berolahraga secara tim dan perorangan, tetapi tidak mengutamakan tenaga fisik yang besar.
2.      Menerima makin dewasanya peserta didik
3.      Memberikan tanggung jawab secara berangsur-angsur
4.      Mendorong kebebasan dan tanggung jawab.
e.  Perlakuan pendidik ( orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa remaja akhir :
1.        Menghargai pandangan-pandangan pessrta didik
2.        Menerima kematangan peserta didik
3.        Memberikan kesempatan luas kepada peserta didik untuk berolahraga dan bekerja secara cermat
4.        Memberikan kesempatan yang luas untuk pendidikan karir
5.        Menggunakan kerjasama kelompok untuk memecahkan masalah
6.        Bekreasi bersama dan bersa-sama menegakan berbagai aturan.








BAB III
PENUTUP 
A.      Kesimpulan
Dari uraian pembahasan landasan psikologis dalam pendidikan, dapat disimpulkan bahwa:
1.    Landasan Psikologi dalam pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang  kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
2.    Landasan psikologi   pendidikan merupakan salah satu landasan yang penting dalam pelaksanaan pendidikan karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasnya sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Oleh karena itu pendidik harus mengetahui apa yang harus dilakukan kepada peserta didik dalam setiap tahap perkembangan yang berbeda dari bayi hingga dewasa
3.    Implikasi landasan  psikologi dalam pendidikan adalah:
a.       Seorang pendidik dalam proses pebelajarannya memberikan kemungkinan untuk membentuk kepribadian individu sesuai yang diharapkan akan tetapi tetap memperhatikan faktor-faktor hereditas yang ada pada individu.
b.      Seorang pendidik dalam proses pebelajarannya harus memperhatikan tugas perkembangan pada setiap masa perkembangan anak.
B.   Saran

Karena begitu pentingnnya landasan psikologi dalam pendidikan maka seluruh calon pendidik dan para pendidik diharapkan mampu mempelajari serta mengaplikasikan landasan psikologi dalam pendidikan agar proses pendidikan berjalan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari Budayakan Berkomentar yang Baik, Sopan, dan Ramah, Sesuai Khasanah Indonesia.