Jumat, 05 Desember 2014

Soal Logika (Logic Case) 1 CERDAS TANGKAS MATEMATIKA CTM UPI

Jumat, Desember 05, 2014
hai teman-teman, mungkin diantara kalian ada yang bingung mencari soal-soal logika kasus dan penalaran yang tentunya sangat berguna untuk meningkatkan penalaran kita. berikut ini akan saya bagikan soal Logika yang juga merupakan Soal PENYISIHAN 1 dalam perlombaan Cerdas Tangkas Matematika (CTM UPI) Lomba ini sendiri sudah ada sejak 35 tahun lalu. langsung saja cek soal Logikanya disini 'SOAL LOGIKA' .

Soal Logika ini sendiri merupakan asli karya saya asli. jadi apabila teman-teman ingin mengajak saya bekerjasama dalam pengadaan soal-soal atau penyusunan buku, dapat langsung menghubungi saya.

Kamis, 22 Mei 2014

Ciptakan Citra Guru Lulusan UPI yang ASIC (Always Stand In Class)

Kamis, Mei 22, 2014

Oleh : Wenda Alifulloh
Ketua Departemen Pengembangan Akademik (DPA BEM HIU 2014)
Pendidikan Matematika-FPMIPA.


            Dewasa ini profesi sebagai guru sudah bukan lagi sebuah Profesi yang kurang menarik, karena sudah tingginya penghargaan Pemerintah Republik Indonesia Terhadap para pencipta insan cendekia Itu. Mulai dari penghasilan guru yang terbilang mencukupi kebutuhan hidup, hingga tambahan penghasilan dari tunjangan dan sertifikasi, bahkan untuk beberapa guru yang berkompeten di bidang lain diluar keguruan, pemerintah memberikan jalan untuk mengembangkannya. Misalnya dengan memberikan beasiswa melanjutkan kuliah baik di dalam maupun diluar negeri, atau bimbingan Learning Studies di Universitas-universitas Terkemuka yang menunjang bidang Kompetensi yang dimiliki oleh guru-guru tersebut. Karena itulah kini banyak sekali universitas baru yang mendirikan jurusan keguruan, bahkan universitas yang telah lama berkiprah di Indonesia baik negeri maupun swasta-pun berlomba-lomba menciptakan jurusan keguruan terbaik dan Terdepan serta siap terjun di lapangan.
            Universitas Pendidikan Indonesia, yang sejatinya adalah Universitas Pelopor dan Unggul sudah tidak dipungkiri lagi merupakan Universitas terbaik dalam pengadaan tenaga pendidik di republik ini. Citra universitas yang sangat baik dalam pengadaan guru membawa banyak pandangan positif dan nilai tambah bagi setiap lulusannya. Karena itu sebagai salah satu lulusan maupun calon lulusan dari universitas terbaik ini, sudah saatnya bagi kita untuk tidak hanya menumpang image yang sudah terlanjur melekat dalam pencitraan Universitas. Sudah saatnya kita benar-benar bersedia untuk memberikan image baru terhadap tenaga pendidik lulusan Universitas Pendidikan Indonesia ini. Tidak sulit, cukup dimulai dari diri kita dan secara perlahan kita coba untuk turunkan pada generasi-generasi selanjutnya.
            Cara ASIC (Always Stand In Class) dapat menjadi sebuah cara yang membanggakan dan menimbulkan image baru bagi lulusan universitas kita ini. Caranya sangat mudah dan siapapun dapat melakukannya, yakni pada saat kita mengajar dikelas mengajarlah dengan terus berdiri selama pelajaran berlangsung, baik saat menerangkan, memperhatikan siswa yang maju, maupun saat berdialog. Dengan melakukan cara itu kita  mendapat beberapa keuntungan, baik untuk pribadi maupun untuk almamater kita. yaitu :
1.      Dengan ASIC, kita sebagai guru akan mendapatkan pandangan yang positif dari siswa. Terlebih dengan melakukan ASIC kemungkinan respect siswa akan lebih besar terhadap guru. Dan perasaan respect itu dapat menghantarkan murid menuju rasa ‘cinta’ terhadap guru dan pelajaran yang diajarkan oleh guru sehingga siswa akan lebih mudah belajar. Cara kita yang ASIC itu dapat pula kita jadikan sebagai Ciri-ciri dan kekhasan kita dalam mengajar. Dan tentunya dengan citra yang kita tebarkan itu, orang akan tahu bahwa guru lulusan Universitas Pendidikan Indonesia adalah lulusan yang benar-benar beda dari lulusan Perguruan tinggi keguruan lain.
2.      Jika kita melakukan Cara ASIC dalam mengajar, Tentunya hal ini akan menjadi sebuah pembeda dengan guru-guru lain yang ada dalam suatu lembaga pendidikan yang sama dimana kita bekerja. Dan cara ASIC yang kita terapkan dalam mengajar sehari-hari tidak menutup kemungkinan untuk dapat diadopsi oleh guru-guru lain, mengingat cara ASIC ini dapat menunjukan secara tersirat kepada peserta didik bahwa sang guru sedang bersemangat untuk mengajar mereka. Dibandingkan apabila guru dominan duduk.
3.      Dengan melakukan cara ASIC dalam mengajar, kita dapat bergerak bebas dan leluasa dalam kelas, dapat mengetahui kondisi kelas dengan baik dan dapat mengawasi siswa secara intensif dalam belajar. Dengan demikian kita mendapat satu bonus anggapan yang lain, yakni kita sebagai guru yang perhatian dan peka terhadap siswa dan isu lingkungan siswa. Dengan kita perhatian dan peka terhadap siswa, maka mereka akan lebih nyaman dalam berinteraksi dengan kita. Kita pun dapat diterima dengan baik oleh mereka, sebagai guru yang menjadi Pendidik, Pengajar, Sahabat, Tempat curhat dan Orangtua bagi mereka.
Selain tiga kelebihan cara ASIC diatas, masih ada begitu banyak keuntungan dari penerapan Cara ini yang akan kita dapatkan. Cara ASIC ini dapat menjadi suatu cara yang tidak ada kurikulumnya dalam mata kuliah, namun menjadi suatu Ilmu yang dapat mencirikan Pendidik lulusan Universitas Pendidikan Indonesia. Sebenarnya cukup mudah untuk melakukan cara ini, cukup dengan mengasumsikan bahwa kita adalah guru kompeten lulusan Universitas Terbaik dalam pengadaan guru sehingga harus membangun pandangan yang baik sebagai budaya Universitas yang diturunkan. Yang terpenting dari kita berani mencoba dan berani berbeda dengan para guru lain maka citra baik akan hadir untuk kita dan untuk universitas tercinta ini dapat tertangkap dalam sekali menepuk.
Di beberapa negara cara ASIC ini sudah sering diterapkan oleh pengajar disekolah. Mereka sangat atraktif dalam mengajar, sehingga terlihat semangat dan menggebu-gebu dalam mendidik siswanya.

Jadi, mari mulai dari sekarang kita coba untuk menjadi guru ASIC sebagai sebuah tuntutan kompetensi dalam mendidik. Tetap pancarkan kharismamu dan tarik nafas panjang serta teruslah bersabar, akhirnya Selamat mengajar untukmu wahai para Guru Terbaik. (Wenda Alifulloh)

Selasa, 15 April 2014

CERPEN : "Saat sahabat adalah..."

Selasa, April 15, 2014
aku sudah sangat lama bersahabat dengannya, dia adalah satu-satunya sahabat yang aku punya dimana tak ada yang bisa menandingi kesetiaannya kepadaku, bagaimana tidak. Aku mengetahui semua rahasianya, dia pun juga mengetahui semua rahasiaku, tanpa terkecuali. Aku sendiri bingung mengapa aku begitu mempercayainya sebagai sahabatku, tanpa perasaan ragu sedikitpun. Kadang aku berfikir kapan pastinya kami menyatakan bersahabat, mungkin saat SD atau TK atau bahkan saat bayi, entahlah mungkin sejak lahir kami sudah bersahabat.
                Kebersamaanku dengannya begitu dekat, bahkan soal makan aku selalu rela berbagi dengannya, dia pun demikian selalu berbagi denganku, bahkan ketika aku memegang daftar menu sebuah rumah makan, dengan tepat dia dapat menebak apa yang akan aku pesan. Itulah persahabatan kami. Kami selalu bersama, saat disekolah, dan dimanapun. Sering juga ia ikut tidur bersamaku, dikamar-ku atau kamarnya.
                Dari semua itu tentu tetap ada yang membedakan kami, kalau aku cenderung pendiam dan tenang, sedangkan dia sangat bertolak belakang, dia sangat urakan. Meskipun soal prestasi belajar, kami tidak jauh berbeda, selalu jadi yang terbaik. Hanya saja dia lebih baik menurutku, sebab dia mampu menangani Dodi, teman sekelasku yang sering sekali menganggu kami.  Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku dan dia yang dipilih oleh Dodi untuk diganggu dari sekian banyak siswa disekolah ini. mungkin karena penampilanku yang selalu rapi, sangking rapinya banyak yang sering berceletuk ‘CULUN’ Padaku, sedangkan dia, mengapa dia juga ikut diganggu Dodi. Tentu karena dia dekat denganku, dia bersahabat denganku. Secara tidak mungkin karena gaya berpakaiannya, seperti aku sudah jelaskan dia sangat bertolak belakang dariku, aku yang selalu rapid an terkesan culun, sedangkan dia selalu santai dan terkesan urakan.
                2 jam berlalu sejak aku di rumah setelah pulang dari sekolah, Mukaku masih pedih. Pedih karena pukulan Dodi kepadaku di sekolah tadi saat jam pulang, ini karena aku mengikuti perintah sahabatku itu, sebanarnya kalau aku bersikap biasa saja pada Dodi saat dia menyuruhku mengerjakan PR Matematikanya tentu aku tak akan dipukulinya, tapi karena dorongan sahabatku untuk menolak, maka aku melakukannya, bahkan dengan sangat lembut.
                “maaf Dod, saya nggak bisa terus-terusan buat PR Kamu, kan kamu harus belajar juga..”, ucapku pelan.
                “oh.. sudah mulai berani nolak, kamu ya. ! pinter itu dibagi-bagi dong, CULUN !!”, Bentak Dodi keras.
                “kalau kamu mau belajar bareng ayok aja, nanti pasti aku ajarin.”. balasku lagi sambil menahan gemetar.
                “Kerjain atau kamu bakal nyesel karena nolak buat ngerjain !!?”. katanya lagi dengan nada yang lebih keras.
                “nggak bisa Dod !”, ucapku sembari mengingat wajah sahabatku yang memerintahkanku untuk melawan.
                Dodi diam, tidak ada balasan sekian menit, tiba-tiba sebuah tonjokan keras khas anak SMA mendarat di pipiku. Dan dia pergi dengan meninggalkan buku PR-nya ditanganku. Sedangkan wajahku tentu berdarah, sebab pukulan itu sangat keras. Bahkan aku merasakan rahangku ngilu, aku ingin sekali menangis. Tapi aku malu, sebab ini masih dilingkungan sekolah.
                Setelah sampai dirumah, ternyata Sahabatku sudah menungguku di dalam kamarku, tentu tanpa aku bercerita dia sudah tahu dengan pasti apa yang terjadi pada wajahku ini, sembari mengaca untuk memperhatikan lukaku, dia pun memecah eheningan siang itu dikamarku. !
                “Ini pasti ulah Dodi kan!!”, katanya dengan nada marah,
                “iyalah.. siapa lagi.. ”, balasku lemah.
                “kok kamu diam aja si !”, ungkapnya dengan geram.
                “aku tidak diam, aku tadi lakukan apa yang kamu sarankan untuk tidak mau disuruh-suruh Dodi lagi, tapi dia justeru menghajar wajahku”, balasku lirih.
                “maksudku tidak mau disuruh-suruh itu jangan hanya nolak, tapi kamu juga harus berani melawan dia saat seperti ini. kamu inget ini udah yang keberapa sejak kamu disekoah ini ?”, katanya keras dengan berapi apai, “ingat kejadian saat ospek hari terakhir, ketika kamu dipermalukan didepan seleuruh peserta ospek ?. atau saat pelajaran olahraga dia menendang kamu dengan bola dan kamu pingsan ?. atau saat pertandingan olahraga dimana kamu diminta menjadi timnya tetapi kamu justeru jadi anak bola bak jongos yang ngambilin bola saat out ?, ayolah. Mau sampai kapan Wan !”. lanjutnya semakin menjadi, tentu membuat aku mengingat semua kejadian-kejadian yang Dodi lakukan untukku, sudah tak bisa kuhitung dengan jari-jariku. Sakit rasanya, sakit sekali. Tapi tentu, kalau sakit masih bisa kutahan tapi Malu. Siapa bisa melawan. Saat semua orang menatapku dengan iba,. Bodohnya aku, diam saja saat guru-guru merasa ada yang aneh pada perlakuan Dodi terhadapku. Saat guru BK memanggilku, saat walikelas menasihatiku. Ahh…
                “aku tau !, tapi aku tak seperti kamu yang kuat dan pemberani, yan !”, bentakku pada Alfian, sahabatku itu.
                “kamu baru saja membentaku, ! kamu berani, kamu itu bisa melawan dia Wan.”, ucap Alfian padaku.
                “aku.. aku  takut nggak bisa yan, aku terlalu penakut untuk seorang Dodi !”. kataku sembari melinangkan airmata.
                “Dewan ! kamu itu laki-laki sama seperti aku dan Dodi, kamu harus bisa lawan dia. Aku akan bantu kamu, besok aku akan terus bersamamu, sekarang kamu tidak perlu mengerjakan PR itu. biarkan saja dia marah. Dia sudah kelewat batas memperlakukan kamu. Kamu harus berani lawan dia !”, ucap Alfian padaku dengan tatapan nanar penuh emosi.
                “tapi kamu harus janji, kamu harus melakukan lebih banyak untuk melawan dia, aku takut yan, takut sekali dengan dia.”, ucapku keras dan penuh isak. Mungkin sangat keras, sampai-sampai Ibu tiriku mengetuk kamarku, dan berseru..
                “Dewan.. kamu kenapa nak ?.” ucapnya lembut. Lembut, tapi tak pernah selembut Ibu kandungku yang telah meninggalkanku sendirian di dunia ini. hanya dengan ayah, ayah yang aku bahkan tak pernah suka sejak dia memilih Wanita lain sebagai pengganti ibuku. !
                “nggak papa Ma.”. kataku dari dalam kamar.
                “mama paksa masuk, kalau kamu nggak buka pintu. !”, balasnya dari luar, terdengar raut kekhuwatiran disana. Tapi aku tak peduli. Aku membuka pintu dan mmebiarkan ibu tiriku menatapku dengan airmata ini,
                “kamu kenapa sayang ?. kenapa kamu teriak dan bicara sendiri ?”. ucapnya lirih merangkulku yang penuh dengan emosi. Sembari matanya melihat keseisi kamarku. Aku pun memperhatikan seisi kamarku, ternyata Alfian tidak ada, pantas saja ibu tiriku mengira aku berbicara sendiri. Mungkin Alfian takut, sehingga ia bersembunyi delemariku.
                “nggak papa ma, aku baik-baik aja, Cuma tadi jatuh dan pipiku kena batu, jadi agak memar”. Kataku berbohong.
                “Dewan.. kamu kalau ada apa-apa cerita sama mama donk, mama disini kan sebagai ibu kamu, mama sayang sama kamu, nak. Yaudah sekarang kamu istirahat aja, nanti mama bawa obat buat kamu ya..”, katanya lirih penuh kasih sayang. Aku agak tenang, tapi aku masih terus egois dengan tidak akan menerima ibu lain untukku, karena bagiku ibu hanya ada satu.
                Sebenarnya aku cukup tahu bahwa ibu tiriku itu sayang sekali padaku, hanya saja Alfian yang ikut menilai ibuku mengatakan bahwa ibu tiri itu jahat. Sehingga saat aku hamper luluh, Selalu saja ada Alfian yang mengingatkanku. Bagaimanapun algfian adalah sahabatku sejak kecil, sahabat yang telah ada sejak ibu kandungku masih hidup, jadi mungkin dia tau tentang keluargaku ini. entahlah, tiba-tiba aku lelah..

Pagi ini aku dan Alfian sudah membulatkan tekad, kami berangkat bersama-sama dari rumahku menuju sekolah dan bersiap menghadapi Dodi. Aku sudah melakukan apa yang Alfian perintahkan untuk tidak mengerjakan PR  Dodi, dan Alfian sendiri sudah menjamin keselamatanku hari itu, dia bilang selalu membawa senjata rahasia ditasnya sambil tersenyum santai padaku pagi tadi.
                Waktu pengumpulan PR matematika menjadi waktu yang mendebarkan bagiku, karena aku benar-benar tidak membuat PR Dodi, aku mengumpulkan Buku PR ku yang terisi penuh oleh jawaban dan Buku PR Dodi yang sama sekali tanpa jawaban. Akhirnya saat Pak Alam mengkoreksi dan sampai di bagian Dodi beliau marah besar pada Dodi. Tentu kami puas, aku dan Alfian agak merasa senang karena Dodi mendapat balasan dengan dijemur dilapangan sekolah sampai jam matematika berakhir. Seusai bel pulang sekolah menjadi hal yang Aku dan Alfian nantikan, bagaimana tidak, kami telah menduga-duga apa yang akan Dodi lakukan padaku siang ini,
                “WAN !”. Bentak sesorang dari belakangku. Itu suara Dodi. Dia berlari menghampiriku dan langsung menarikku ke Toilet, aku sudah menebak bahwa dia akan melakukan ini, namun kali ini, aku sedikit tenang sebab Alfian disampingku.
                “Wan, kamu boleh buat aku dihukum tadi pagi ! tapi sekarang gentian kamu yang harus terima balasan dariku !”, kata Dodi keras padaku dengan muka penuh amarah. Aku melihat kearah Alfian, dia membisikanku kata-kata untuk membalas ucapan Dodi.
                “balasan ?. kamu kira dengan kamu dijemur dilapangan cukup untuk mengganti semua hal yang kamu lakukan ke aku ?. ! ENGGAK SAMA SEKALI, DOD!” Bentakku. Dengan amat keras. Dan Sebuah hantaman aku terima di pipi kananku.
                “kurang ajar, berani ya Bentak-bentak sambil melotot gitu !!”, katanya dengan keras. Nyaliku menciut dan aku benar-benar menangis ketakutan. Lalu aku berbisik pada Alfian untuk meneruskan semua ini. tanpa pikir panjang Alfian merogoh saku celananya dan mengeluarkan pisau dapur kecil dan langsung menusukkan pada leher Dodi. Aku melihat dengan jelas Dodi kesakitan dan mencoba berteriak, namun tidak cukup kuat dan dia tersungkur dengan pisau masih tertancap di lehernya. Aku pergi meninggalkan dia di toilet itu, sendiri !.
                Aku diam dikamarku, sebab aku takut kehilangan Alfian sahabatku yang pemberani yang rela membelaku sampai seperti itu. karena aku tau, pasti polisi akan dengan mudah melacak keberadaan Alfian dari sidik jari di gagang pisau itu. ah jahatnya aku membuat Alfian harus terlibat dalam masalahku. Dan yang membuatku semakin takut adalah, Alfian tidak mengunjungiku siang ini, Kami berpisah sejak dia menusukkan pisau itu keleher Dodi, dia menghilang dari toilet itu..
Keesokan harinya.
                Aku sedang bersembunyi di Gudang Sekolah. Dan Aku menuliskan ini ;
“aku takut, takut dengan semua ini. aku cukup tersiksa dengan keberadaan ibu tiri, meskipun aku tahu ibu tiriku ini sangat menyayangiku. Ditambah lagi Dodi, teman sekolah yang tak pantas kusebut teman, puluhan pukulan aku rasakan dari tangannya, Berbagai perintah harus aku lakukan demi aku menyelamatkan diriku. Tapi ketakutan itu selalu saja dapat hilang saat Alfian sahabat dekatku menasihatiku, membimbingku, dan memerintahkanku untuk melawan.
Tadi, tanpa sengaja aku mendengar percakapan petugas polisi dengan kepala sekolah, bahwa pelaku pembunuhan itu ditemukan, aku takut kehilangan Alfian, tetapi justeru yang membuatku terkejut. Mereka akan menangkapku, katanya sidik jari itu sidik jariku. Aku benar-benar tak mengerti, dan aku tak sanggup lagi, dan saat seperti ini, sahabatku Alfian tak juga menemuiku untuk memberikan solusi dari hal ini sebagaimana ia memberiku solusi untuk maslahku dengan Dodi.
mungkin saat surat ini ditemukan aku sudah tak ada lagi di dunia ini, setidaknya aku bisa menjalani hari tanpa kekerasan dari teman-teman seperti Dodi. Apabila kalian bertemu Alfian, mungkin kalian bisa bertanya banyak tentang ku padanya.”.
                lalu aku memotong urat nadiku dengan pisau bedah yang aku ambil dari lab Biologi tadi, tiba-tiba tubuhku mengajang dan seakan kaku. Nyaris gelap, anehnya aku dapat melihat Alfian. Kali ini Alfian justeru keluar dari tubuhku dengan senyum piciknya dan lengkap dengan seragam sekolah seperti yang aku pakai. Aku masih tidak mengerti tentang Alfian yang tiba-tiba ada sampai aku membaca nama diseragam yang dikenakan olehnya dengan sisa-sisa tenagaku.
                “DEWAN ALFIAN RAHMADI…”, Deg ! itu nama lengkapku. Tunggu disana ada Dewan dan ada Alfian. Oh tidak, jadi selama ini.. Alfian adalah…
Dan semua gelap !

WENDA ALIFULLOH, 24/2/14.23.21

Rabu, 12 Februari 2014

CERPEN ; Kisah Diary : 'sssttt ini tentang tuanku'.

Rabu, Februari 12, 2014
Ahh, sudah pukul setengah sembilan malam pasti sebentar lagi dia akan datang dengan ekspresi dan ceritanya yang tidak penting sama sekali. yaa itu menurutku sih. Bagaimana tidak, setiap malam dia datang kepadaku bercerita tentang kisah sehari-harinya yang amat sangat membosankan untuk didengar. Kalau kau jadi aku, pasti kau pun bosan!.
Aku bisa menebak dengan jitu, mungkin malam ini dia akan bercerita tentang teman-teman baru disekolahnya yang membosankan itu, atau tentang kucing kecil di depan sekolah yang amat sangat kumal bulunya karena terciprat genangan air dilubang-lubang jalan, oh atau bisa jadi seperti dua hari yang lalu, saat ia cerita tentang kelasakannya hingga menumpahkan segelas susu yang membuatnya harus dimarahi oleh ibunya. Atau mungkin tentang si Reno, kakak kelas di sekolah itu, yang sangat dia kagumi. Ahhh benar-benar membosankan cerita-ceritanya itu.



Ya ampun !!, dia datang, oh, aku bisa mendengar dari derap langkahnya yang bergerak mendekatiku. aku bosan sekali setiap malam harus menemaninya dan mendengarkan ceritanya. Kapan ini semua akan berakhir, kapan cerita-cerita membosankan itu berhenti ia ceritakan padaku. Seandainya saja ada orang yang memberitahunya bahwa ceritanya itu membosankan, mungkin aku akan berterimakasih sekali.
ah, dari derap langkah dan suara desahan nafasnya aku bisa merasakan kalau dia sudah tepat ada dibelakangku, hufth. Sebentar lagi mungkin akan terjadi insiden kekerasan yang ia lakukan padaku, seperti hari-hari sebelumnya, pasti dia akan mengangkatku dengan cengkraman erat yang menyakitkan kulit indahku dan kemudian memutar-mutar tubuhku, sambil bersenandung ria tanpa dosa, atau bersiul-siul kecil yang amat sangat tidak indah didengar, sama sekali tidak indah!.
upss… tapi tunggu sebentar !!!, apa ini ??, kenapa tubuhku terpercik tetesan air?, hujan kah?, ah tidak! sejak tadi aku merasakan malam ini gerah, dan diluar-pun tak terdengar suara hujan atau gerimis sama sekali. Lalu tetesan apa di tubuh indahku ini, apa  dia menyemprotku karena terlalu gembira, atau saking joroknya dia meludah? Oh tubuh indahku bisa rusak kalau begini. Tapi, tapi lihatlah, ohh ada apa kah ini?

Ow.. Kenapa perasaanku malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya ya, dia juga tak terdengar bersuara sedikitpun, hanya memang desah nafasnya terdengar sangat tidak biasa, terlalu keras untuk nafas normal. ada apa sebenarnya ini ?. wah Tetesan air ini semakin banyak, rasanya aku ingin berteriak sekuat-kuatnya pada orang yang tega membuat kulitku rusak dengan air-air ini “Hentikannnnnnn!!!!!!” aku tak ingin tubuhku rusak, ah tentu suaraku tak terdengar olehnya, dia sama sekali tak bergeming. oh suara apa lagi itu?, seperti sebuah isakan. Ya, suara isakan tangis. Tapi, tidak mungkin sekali dia menangis! Sudah tiga bulan aku menemaninya dan membiarkan tubuhku dicoret-coret dengan kisah-kisahnya yang membosankan itu hingga malam ini aku hanya tersisa 2 lembar saja, tapi setelah selama itu baru kali ini dia terisak menangis dan terlihat sangat sedih, ada apa dengan tuanku hari ini, ya?.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan dia pada kalian, namanya Gita, itu aku tahu tiga bulan lalu saat ia menuliskan ‘Zagita Afnisa Royan (Gita)’ dikolom nama yang ada di halaman awal tubuhku, dari tulisannya di kolom tanggal lahir dan sebagainya, aku tahu bahwa Gita berusia 15 tahun, dan baru masuk SMA bulan lalu.

“Selamat malam diaryku sayang, selama ini, aku nggak pernah cerita tentang mami-ku sama kamu, kan? Kamu tahu kenapa?, sebab dari hatiku sangat membenci dia  sejak tahun lalu, saat perceraian dengan ayahku. yang lebih menyakitkan buataku adalah mami dicerai ayah, karena ayah beberapa kali melihat mami seelingkuh dengan laki-laki lain. Meskipun aku nggak pernah tahu langsung, tapi kebencin itu timbul. Karenanya aku lebih memilih tinggal dengan ayah-ku, meski hanya berdua, mamiku sendiri hanya menemuiku beberapa kali dalam sebulan. Dan malam ini aku ingin cerita tentang apa yang aku alami hari ini. pagi tadi saat istirahat pertama disekolah, aku lihat kak Reno berdiri dilapangan, dengan satu kaki dan tangannya menjewer telinganya sendiri. Lalu timbul rasa penasaranku. Maka aku coba cari tahu, kenapa kak Reno bisa seperti itu…”.

Wah baru kali ini aku bisa dengan tenang dan merasa tesentuh dengan cerita tuanku ini. Sepertinya kali ini emosinya benar-benar tergugah, air matanya pun tak henti-hentinya menetes, sesekali membasai tubuhku, namun kali ini aku tidakprotes dan lebih memilih diam.

“..siangnya saat istirahat kedua, aku dengar bahwa kak Reno dihukum oleh Pak Handoko, karena tidak mengerjakan PR Matematikanya. Karena sudah tahu aku pun berniat kembali kekelas, sebelum sampai dikelasku, aku melewati lorong kecil dan ruang music yang sepi namun terbuka,  kulihat ada kak Reno sendiri didalamnya, dari depan pintu aku bisa dengar kak  Reno sedang menelepon seseorang, hatiku jealous juga sih saat disela-sela percakapan mereka kudengar kak Reno mengucap sayang-sayang, hingga aku benar-benar penasaran, dan aku cobaa buat dengerin dengan seksama. Ternyata  kak Reno habis cerita, kalau dia dihukum di  lapangan sekolah oleh pak Handoko demi cewek ditelepon itu, sebab malam tadi yang harusnya bisa digunakannya untuk mengerjakan PR, justru dihabiskan berdua dengan cewek itu, akhirnya, cewek ditelepon itu meminta maaf dan mengajaknya ketemuan siang ini sepulang sekolah. Kareena dihantui rasa penasaran aku pun bertekat utuk mengikuti Kak Reno sepulangsekolah ini.

*HARD ROOF KAFE* (Senin, 8 Juni 14:24 WITA)
Aku berhasil mengikuti kak Reno tanpa sepengetahuannya, namun sepertinya cewek ditelepon itu belum tiba disana, sebab Reno masih terlihat menunggu, sekitar sepuluh menit kemudian, Reno berdiri dari tempatnya menunggu saat sosok wanita dengan kacamata hitam menghampirinya. Mereka saling cium, dan dari gerak bibir Reno, aku bisa tahu bahwa dia bilang ‘Kok Telat Sayang’. Nggak terlalu lama mereka duduk dan ngobrol, saling canda, dan ketawa, sampai akhirnya wanita itu ngeeluarin amplop cokelat dari tasnya  dan mengeluarkan sedikit ujung isinya, yang ternyata uang untuk dihitung. Dengan senyum sumringah Reno dan wanita itu berdiri, lalu wanita itu membukakacamata hitamnyadan mengambil amplop itu untukdiserahkan ke Reno, aku bisa lihatbahwa Reno bilang ‘Mkakasih ya Sayang, aku makin cinta deh sama kamu’ dilanjutkan peluk cium mereka,, dan wanita itu bergegas balik badan hendak meninggalkan Reno, dan dengan mata yang tidak bisa aku kedipkan, aku tertegun, sepertinya aku kenal wanita itu, wanita yang tampak sangat anggun dan cantik dengankacamata hitam yang kini di tangannya….”

Oh, tidak.. siapa wanita yang telah membuat Gita tertegun, kenapa Gita bilang dia kenal wanita itu?, apa dia teman-teman Gita yang juga suka dengan Reno. Ughh jahat sekali kalau wanita itu adalah teman Gita, apa dia tidak tahu bahwa tuanku ini sangat suka dengan Reno. Lalu apa yang akan Reno lakukan setelah itu?. Aku jadi semakin penasaran, ditambah lagi suasana kamar Gita yang hening mengharu biru penuh isak dan tetes airmatanya, ayo Gita, jangan menangis, kamu harus kuat sayang, jangan menyerah dengan wanita itu, aku yakin kamu jauh lebih cantik dari dia. Dan ayo kamu selesaikan ceritanya, aku rela kamu mencoret-coret tubuhku, dan aku pun rela meskipun harus basah karena tertetesi airmatamu, Gita. aku menjadi tidak sabar sendiri menunggu kellanjutan tulisan Gita yang terhenti karena tangisannya terhadap peristiwa hari ini yang tentu akan membuat sejarah luar biasa tertulis dalam tubuhku,. Wah Gita sudah memegang pena polkadot berbulunya lagi, sepertinya ia ingin segera melanjutkan kisahnya hari ini.


“…Kamu   tahu Diary siapa Wanita itu?. Wanita yang aku kenal sudah sangat lama itu membuat aku tak yakin bahwa itu memang benar-benar dia, ditambah aku benar-benardown dengan penglihatanku dimana Reno menerima gepok uang dari wanita itu. Cowok macam apa Reno itu, aghh aku tidak ingin berburuk sangka dulu, hingga kemdudian aku memutuskan untuk melanjutkan mengikuti mereka, yang keluar dari kafe itu, saling gandeng. Tak malu Kah Reno dengan seragam SMA-nya itu? Oh mereka pergi dan melanjutkan tujuan mereka ke daerah yang sudah sangat aku hafal, dari lokasinya, tempatnya, hingga seluk beluk jalan-jalannya, benar-benar sering aku lalui beberapa kali dalam sebulan daerah ini. Setelah mereka turun dari mobil wanita itu, aku pun lebih memilih diam di taksi yang kutumpangi sambil terus mengamati dengan jeli. Dan saat itu aku menyimpulkan bahwa aku benar-benar sudah tidak salah lagi, mereka pacaran, dan terlihat mereka keluar dari mobil dengan berpelukan mesra, amat mesra namun sangat menjijikan buat aku. seorang Reno yang aku kagumi, saat itu sedang bergelayut manja menuju rumah besar itu bersama wanita yang sangat-sangat aku kenal. Dia adalah Mamiku!!. wanita yang masih menempati posisi terhormat dihatiku, meski aku membencinya sejak perceraian saat itu.
Dahulu.. aku mencoba untuk tidak peduli dan tidakmau tahu dengan urusan orangtuaku, termasuk saat ayahku bilang bahwa mamiku selingkuh yang membuatnya sakit hati dan memutuskan untuk menceraikannya, aku benar-benar tak mau tahu, dan sama sekali tak punya pikiran untuk mencari tahu siapa Pria Idaman Lain Mamiku yang telah bisa menggeser  posisi ayahku dihadapan Mamiku. semapan apakah Pria itu?, dan seperapa baik dibandingkan dengan ayahku?, aku benar-benar tak ingin tahu, saat itu. namun hari ini, tanpa aku minta, dan tanpa aku rencanakan, aku tahu bahwa pria itu adalah Reno. Kakak kelasku yang berhasil membuatku tak bisa tidur karena ketertarikanku kepadanya yang pendiam dan tampak misterius (sampai kemudian aku tahu dia benar-benar cowok paling busuk menurutku).
dan mulai hari ini juga, aku benci dan jijik dengan Kedua orang itu, aku benci dan benar-benar muak dengan mereka, terlebih mamikiu yang sangat amat menghancurkan perasaanku, menjalin hubungan dengan Laki-laki yang hanya beda dua tahun dari usiaku, sekaligus sebagai kakak kelasku, serta menempati posisi khusus dihatiku. Sejak hari ini juga Aku bertekat untuk……”

Oh Gita, kenapa ini?. Kenapa kau berhenti menulisiku, mengapa ceritamu hari ini kau gantung dikata ‘bertekat untuk…’, lalu kenapa kau justru malah menutupku?,  aku tahu kau sedih dan akan menangis lebih keras lagi, tapi aku kini rela air matamu membasahi tubuhku, benar-benar rela.
ayo lanjutkan lagi Gita, tekat apa yang kau berikan pada mamimu yang masih kau hormati dan juga Reno yang kau sayangi itu ?. Jangan membuatku menunggu dan penasaran Gita, ayo raihlah aku kembali dan buka lembaranku untuk lanjutkan ceritamu, hari ini ceritamu sangat menarik untukku. Kali ini benar-benar berbeda menurutku, ayo Gita lanjutkan lagi kisahmu itu.

Oh.. oh.. tidak Gita apa-apaan ini, kenapa kamu mengangkatku dan berjalan menuju lemari bawah tempat kardus-kardus yang berisi buku-buku dan majalah-majalah lama ?, yang aku tau disana ada emapat belas Diarymu sebelum aku. Apa yang akan kau lakukan padaku Gita?, heii kau membuangku? Kenapa Gita? Oh tidak tolong kembali angkat aku, hei hei lalu kenapa kau mengambil buku baru dari lemari diatasku! Kenapa kau menggantiku Gita?, apa salahku,!!

ah unggu dulu. Ya Ampun ternyata halaman-halaman ditubuhku sudah habis dan penuh dengan cerita-ceritanyanya, ternyata usiaku hanya tiga bulan ditangan Gita. Padahal aku masih sangat penasaran dengan tekat apa yang Gita yakini untuk mereka. Aduh Kawan, aku benar-benar tak bisa tidur, karena terus mereka-reka apa yang akan terjadi, mustahil rasanya aku bisa tahu kelanjutan kisah mengharukanmu, Gita. Lagian mengapa lembaranku harus tersisa hanya 2, padahal aku masih sangat ingin menangis untuk kisahmu Gita.

Oh, Gita apa yang kau lakukan, sayang? kau mengunciku di dalam lemari bawah ini, uh pengap sekali,
“heii kau Diary baru diluar sana yang baru saja diambil Gita, aku tunggu kelanjutan kisah Gita ya?, besok-besok saat kau masuk dalam Lemari ini kau harus ceritakan padaku..!”. teriaku.
Jebreddd!! Klik !. lemariku terkunci rapat, dan Gelap.. !!

WENDA ALIFULLOH-Siak, 05 ‎Agustus ‎2012, ‏‎20:33:09


tulislah, dan kau akan memiliki sejarah dalam hidupmu.
bertahanlah, karena sesedih apapun, yakinlah esok kau akan lebih baik
carilah Aku, dan tuliskan semuanya, setelah kau bercerita pada Khalik-mu.



Jumat, 31 Januari 2014

CERPEN : JANJI UNTUK ADIKKU, ALMAGHFIRA !

Jumat, Januari 31, 2014


Jebrett !!!!! terdengar keras bunyi pintu yang sudah kesekian kalinya aku banting hari ini. Hari ini adalah hari liburku, ah tidak sebenarnya tidak hanya hari liburku, tapi hari libur kami. Aku yang memang sedang libur setelah Ujian semester ganjil dikelas XII SMA ini, adikku Almaghfira Lifi yang saat ini juga libur setelah ujian akhir semester ganjilnya dikelas 1 SMP. Ditambah lagi hari ini adalah hari minggu, dimana ibuku sedang tidak disibukkan dengan pekerjaan kantornya. Sedang ayahku, masih di Jawa Tengah mengurus pekerjaanya.

“Abang.. kenapa si kok ribut ?”. terdengar suara ibu lembut dari arah dapur.

  Aku diam..

  Sementara itu didepan pintu kamarku masih berdiri tertegun anak penyebab kemarahanku hingga membuatku menutup pintu kamar dengan keras. Sebenarnya agak terdengar sayup-sayup tangisannya, tapi ah sudahlah aku muak dengan dia, adikku sendiri.

“abang kenapa si ?, kan adiknya Cuma minta di ajarin matematika. Masa minta ajarin sama abangnya sendiri nggak mau..”, terdengar suara ibu lagi, kali ini terdengar di depan pintu kamarku.

“Aku capek bu, hari Libur itu ya untuk libur. Lagian Fira kan juga harusnya libur. Percuma juga belajar kalau nilainya tetap jelek !”, jawabku dengan ketus dari dalam. Terdengar semuanya diam,

“Fira, abang mungkin capek sayang, nanti saja ya belajarnya. Biar ibu yang ajarin, setelah selesai masak ya sayang”, kata ibuku lembut.. jauh lebih lembut dibandingkan padaku, padahal kami sama-sama anaknya.

“Iya bu, kalau gitu Fira bantuin ibu masak aja ya bu, Fira bantuin motong bawang atau apalah, masa sejak kecil Fira nggak di izinkan Mengerjakan pekerjaan wanita bu. Fira kan pingin belajar biar bisa jadi wanita hebat kayak ibu, Fira pingin masak buat abang dan ayah juga, sama seperti ibu”. Balas Fira lembut. Dari dalam kamarku aku dapat mendengar jelas, aku bersungut..

“Manja !! cari muka terus, udah gede juga !”, namun kali ini tak sampai terdengar keluar.

  “jangan sayang, mendingan kamu baca buku saja di kamar sana, katanya pingin pintar matematika kan ?, ibu dengar kamu pingin ikutan Olimpiade Matematika, kan ?”, jawab ibuku yang semakin membuatku kesal, dan bersungut lagi..

“dasar ibu ah.. ! kenapa harus sebegitu memanjakan Fira si, ! Kan dia juga harusnya sudah diajarkan pekerjaan rumah, nggak dimanja kayak gitu. Nggak boleh masak, nggak boleh nyuci, nggak boleh jait bajunya sendiri yang robek. Semuanya berbanding terbalik sama aku yang cowok, justru aku harus cuci baju sendiri, harus bisa memasak untuk kami, harus menjahit sendiri atribut-atribut atau bajuku saat robek. Ibu benar-benar tidak adil.”. lagi-lagi sungutan ini tak begitu keras sehingga tak terdengar sampai keluar.

“tapi bu..”, bantah Fira..

“sayang,.. kan ibu mau kamu jadi Ahli matematika, nanti ibu bujuk abang kamu untuk ajarin kamu deh,”. Ucap ibu lagi..

“Beneran ya bu..”, balas Fira lembut, selanjutnya ia meninggalkan depan kamarku. Dan ibu.. beliau mengetuk kamarku dengan agak keras.., aku membukanya..

“Mana si manja ?, udah pergi ?” kataku ketus saat membuka pintu,

“Abang.. nggak boleh gitu sama adiknya ah, kan adik satu-satunya. Masa nggak disayang.”, balas ibuku..

“Fira itu kan Adik satu-satunya kan bu ? Bukan ANAK SATU-SATUNYA ibu dan ayah ?. lalu kenapa aku merasa perlakuan yang berbeda dari ibu dan ayah ?”. balasku lagi lebih tinggi..

“Abang.. jangan gitu, kalian semua sama kok. Ayah dan ibu sama-sama sayang kalian, sekarang ibu mau minta tolong, coba donk ajarin adik kamu matematika, katanya dia ingin ikut Olimpiade matematika”, kata ibu padaku dengan lembut.

“percuma bu, bagaimana mau bisa kalau nilai-nilainya aja jelek !”, ucapku dengan nada menyindir.

“Abang, jangan gitu. Kalau abangnya saja bisa kenapa adiknya nggak bisa.. ?”, lanjut ibu..

“iya bu iya…”, kataku dengan nada malas, demi mengakhiri perdebatan ini.

Aku memang sering sekali berdebat dengan ibu tentang Fira, terutama saat Fira sudah mulai mengusikku dengan memintaku mengajarinya ini itu, eh bukan ini itu si, tepatnya hanya matematika saja., kata ibu, Fira ingin mengikuti Olimpiade Matematika.



         Jujur, aku sendiri malas untuk mengajarinya, terlebih jika aku ingat nilai-nilai diraportnya yang pas-pasan. Kecuali pelajaran matematikanya yang agak mendingan. Aku juga tak tahu kenapa absensinya begitu banyak di raport, padahal menurutku dia selalu masuk sekolah, memang si aku sering melihat dia sudah dirumah saat belum jam pulang sekolah SMP, sakit katanya. Tapi entahlah, ketidak pedulianku kepadanya ditambah Perilaku ibu dan ayah yang selalu memanjakannya membuat aku merasa tak peduli dengannya.

“Kamu harus hapalin nilai-nilai trigonometri untuk sudut-sudut istimewa ini kalau kamu mau ikut olimpiade !”, kataku ketus. Sebenarnya tujuanku memberinya hapalan agar aku tak terlalu berinteraksi dengannya. Tapi 10 menit kemudian.

“aku sudah hafal bang, Semuanya..”, katanya dengan wajah sumringah.

“Coba, Sin 0 derajat berapa !?”. tanyaku dengan keras .

“NOL Bang..”, jawabnya cepat, yang membuat ku berfikir iseng untuk membuatnya bingung dengan pertanyaan selanjutnya.

“kalau nilai Cosinus NEGATIF 90 derajat berapa ?”, tanyaku dengan senyum nakal.
Tampak dia berfikir beberapa saat, tak seperti saat menjawab Sinus 0 derajat.

“kalau nggak salah 0 Juga ya bang ?”, jawabnya.

“hemm.. abang Tanya Cosinus NEGATIF 90 derajat lho, bukan Cosinus 90 derajat!”, jawabku dengan tujuan membuatnya ragu,

“ya NOL Bang, kan aku ngafalinnya pakai pola gambar di koordinat cartesius !”. JLEB ! padahal aku tak memberikannya bocoran untuk menghafal dengan gambar, ternyata dia kepikiran untuk melakukan itu. Jujur aku mengakui adikku ini pintar. Hanya saja perlakuannya ibu dan ayah saja yang membuat aku sering gelap mata padanya.


***

                Hari ini aku sudah harus kembali masuk sekolah. Dengan riang aku segera mempersiapkan diri, batinku sebenarnya sangat senang sebab aku tak akan direpotkan dengan Fira dirumah, minimal sampai pukul 15:00 lah saat aku pulang sekolah. Ayah juga sudah pulang tadi malam, katanya beliau sakit selama di Jawa Tengah sehingga izin pulang, tak seperti biasanya memang.

“Bu, kok nggak ada sarapan ?”. kataku berteriak dari meja makan.

“maaf bang, Fira sakit sejak subuh tadi, jadi ibu tidak sempat masak. Kamu nanti sarapan diluar saja, itu uangnya ada di atas televisi udah ibu tambahin”. Kata ibu dari dalam kamar Fira. Ahh simanja berulah lagi, dan untuk kesekian kalinya aku merasakan dampaknya.

“baik bu..”, kataku sembari menyambar uang diatas Televisi, dan segera keluar menuju sekolah.

“Fira Cepat sembuh ya !”, ahh.. tiba-tiba aku berkata seperti itu pada adikku. Entah apa yang terjadi padaku. Tapi yasudah lah,

“Iya bang, makasih. Makasih udah ajarin matematika juga, nanti kalau Fira juara Olimpiade Fira sewa abang sebagai tutornya”, balasnya yang terdengar ia sedang menahan sakit. aku melanjutkan perjalananku kesekolah.

                Hari ini aku merasa sebagai hari kesialanku disekolah, bagaimana tidak. Pagi-pagi saat aku harus mencatat materi ternyata bulpointku yang seharusnya ada di tempat alat tulisku tidak ada, sampai aku ingat saat aku mengajari Fira kemarin ia membawa bulpoint itu, sehingga aku harus meminjam kepada temanku setelah dimarahi habis oleh Guru pelajaran itu. siangnya saat aku dari perpustakaan untuk meminjam buku, aku harus menanggung malu lagi, saat buku Matematika, Fisika dan Biologi yang aku pinjam diperpus terhempas bola dari arah lapangan. Dan dari ketiga buku itu Untung hanya buku matematika yang terjatuh, namun buku itu sangat tebal dan suara kerasnya membuat seluruh orang disekitarku memperhatikanku. Sampai bel pulang tanda sekolah berakhir berbunyi dan aku memasuki kelas Bimbingan Olimpiade-pun aku juga masih merasa sial. Bagaimana tidak, buku kumpulan soal yang sudah aku kerjakan dengan rapih ternyata tak kubawa dan aku yakin itu perbuatan Fira, karena hal ini sering terjadi. Aku benar-benar tak tahan dengan hari ini, sehingga aku memohon diri untuk tidak mengikuti kelas sore ini dan bergegas pulang.

                Sepanjang jalan aku sudah menyiapkan kata-kata untuk simanja Fira, karena ulahnya aku hari ini merasa sangat tidak sempurna di sekolah.

“Fira benar-benar ngacoin hari ini, pulpen di ambil, buku bimbingan diambil. Uhhh..”, kataku sepanjang jalan. Sampai tiba-tiba aku tertegun saat aku melihat didepanrumahku ada bendera kuning.

“ayah…”, aku membatin..

                Tuhan inikah sebab kenapa ayah pulang tidak seperti biasanya dan dalam keadaan sakit, ratapku dalam hati sembari tertegun. Aku segera masuk. Tampak ramai orang yang sedang melawat dirumahku. Aku sendiri sudah tak mampu menahan air mata, ah ayah walaupun kau jauh lebih sayang Fira daripada aku, tapi aku sangat menyayangimu yah.. kenapa engkau pergi begitu cepat, bahkan pagi tadi aku tak sempat cium tanganmu karena kau masih tertidur kelelahan.

“abang…”, suara ibu membuyarkan lamunanku.

“bu.. kenapa ini bu ?”, tanyaku sesegukkan.

“adik kamu sudah dipanggil lebih dulu oleh sang pencipta”, terdengar suara berat dari belakangku sembari merangkulku, ayahku.

                Ah.. ayah masih ada, dan ibu juga di hadapanku. Aku mencoba mencerna kata-kata ayah kepadaku, ‘ADIK’.. Apa ?, Fira ? Fira meninggal. Ah.. bukankah ia hanya gadis kecil yang menurutku masih memiliki usia panjang.

“yah.. bu.. Fira kenapa ?”, tanyaku semakin sesegukkan.

“ia nak, adik kamu sudah tiada..”, jawab ibu lembut sembari merangkulku.

***

                Sore ini juga Fira dimakamkan, aku, ayah dan ibu saling berpelukan di samping makan Fira. Aku sendiri tak mampu menahan air mataku ini, bagaimanapun Fira adikku, semua kesalahanku padanya muncul dalam bayangan, entahlah kenapa penyesalan selalu datang di akhir.

“yah.. bu.. memang Fira sakit apa ?”, tanyaku sembari menabur bunga di atas makam adikku satu-satunya.

“Abang, penyakitnyalah yang membuat kami harus memanjakan Fira, lebih tepatnya menjaga Fira. Kami tak ingin dia sakit sedikitpun, meskipun kami tau masa ini pasti akan tiba”, kata ibu disamping kananku.

“aku masih kurang faham bu, Fira sakit apa ?, selama ini ia baik-baik saja”. Jawabku lagi.

“Abang…” suara parau ayah menyapa. Aku tertegun seolah aku tak pantas lagi dipanggil abang, bagaimana mungkin aku dipanggil abang saat ini, saat adikku satu-satunya sudah tiada..

“abang harus tahu, dan ayah yakin abang pasti tau mengenai Hemophilia, kan ?”, kata ayah melanjutkan sapaannya.

“apa yah ? Fira terkena hemophilia ?. nggak mungkin yah.. !!!” jawabku semakin terisak.

                Ah kini aku mengerti kenapa sejak dulu Fira selalu dimanja, dia tak boleh Belajar memasak, mencuci dan menjahit. Tentu ayah dan ibu menghindari luka sekecil apaun bagi Fira, karena penyakit tersebut menyebabkan darah sukar membeku saat terjadi luka, jadi ketika ada luka sedikit saja pendarahan tidak dapat berhenti, darahnya terus keluar. Ah. Bodohnya aku yang tak berfikir itu.

“dan pagi tadi, saat adikmu mengeluh sakit, itulah masa yang tiba untuk Fira, karena sejeli apapun ibu menjaga Fira, maka Masa ini pasti datang. Adikmu cewek bang, hari ini Hait pertamanya. Ibu senang, karena kita bisa menjaga dia sampai hari ini, sampai kodratnya sebagai wanita yang membawanya kembali kepangkuan Allah, bang”. Ucap ibu sembari menangis dan mengusap punggungku.

                Ah,, ya Guruku berkata, Sekuat apapun menjaga seorang wanita hemophilia dari luka, pasti masa ini akan tiba. Masa dimana adiku Fira seharusnya memasuki usia remajanya. Ahhh ya Rabb, kenapa aku tak menyadari bahwa adiku lain. Aku terlalu menutup mata dan hatiku untuk Fira. aku tak pernah peduli kepadanya. Dan hari ini aku menyesali itu ya Allah.

“Fira.. maaafin abang Fir.. maafin…”, Ratapku keras diatas pusaranya. Ayah dan ibu pun mencoba menenangkanku, namun aku merasa aku sudah sangat berdosa sebagai abang yang tidak pernah peka terhadap adiknya,

“bang.. sabar bang, biarkan Fira tenang,. Kami sebenarnya ingin memberitahu abang tentang penyakit ini sejak lama, tapi kami takut Fira sampai dengar, jadi kami hanya merahasiakan sampai saat ini,”. Kata ayah kepadaku yang membuatku semakin sesegukan keras.

“FIRAA…. Maafin abang…”, ucapku.

                Aku menangis diatas kubur adikku, Almaghfira Lifi yang hari ini berusia 12 tahun kurang 2 bulan 4 hari. yang hari ini menginjak masa Remajanya dan masa balighnya. Adikku yang cantik, adik satu-satunya yang sangat mencintai matematika. Adikku yang penyabar bahkan jauh lebih sabar dari abangnya yang jahat ini.

                Namaku Yusuf Pradana Lifi, anak pertama dari ayahku Liando Putra dan ibuku Firsya Pratiwi. Kakak terburuk bagi adikku yang kini terbaring di pusara ini. aku beranji selepas pendidikan SMA-ku ini, aku akan kuliah mengambil jurusan yang berkaitan dengan matematika, agar aku selalu ingat Almarhumah adikku dipembaringan ini. aku berjanji..

***

                Namaku Yusuf Pradana Lifi, dan hari ini aku akan memasuki semester 2 di Jurusan Pendidikan Matematika UPI, sesuai janjiku, janji pada adik kecilku setahun lalu. Yang terbaring dengan damai ‘Almaghfira Lifi’.

“untukmu kawan yang bersaudara, sayangi mereka. Sayangi apapun yang ada dari diri mereka, mereka special untukmu. Biarkan mereka tersenyum karenamu, berbagilah dan tutup sedikit ego, agar mata dan hatimu terbuka. Semuanya istimewa.. bahkan saudaramu yang tak kau sukai itu, Allah ciptaka untuk menyempurnakan hidupmu.”

Wenda Alifulloh,
tertumbuk tertusuk duri,
melabuh menguak hati,
aku tak sempurna-Bandung 31-Januari-2014.

© WENDA ALIFULLOH CHANNEL